Akan tetapi, ketika gerakan terus-menerus ini dirasakan oleh sang hamba, sebagian orang merasakannya menyebar ke seluruh tubuh, dan sebagiannya lagi merasakannya pada anggota tertentu. Betapapun, perasaan ini mengarahkan perhatian pada Zat Mahabenar yang dicari. Akan tetapi, jika tidak demikian halnya, dan perhatian tidak tertuju pada Zat Mahabenar yang dicari, maka konsentrasi mesti diarahkan pada hati jasmani tanpa memikirkan atau menyebut-nyebut nama Allah. Sekiranya setelah ini perhatian tidak juga terarah pada Zat mahabenar yang dicari, maka perhatian mestilah dicamkan kepadanya dengan mengambil nama Allah. Akan tetapi, mesti juga diperhatikan bahwa perhatian kepada nama saja tanpa memikirkan Zat Mahabenar yang dinamai (Allah) sangat berbahaya lantaran mampu menaklukkan tujuan hakiki.

Kini, sang hamba mestilah menerapkan pengetahuan tentang gerakan terus-menerus ini pada gerakan terus-menerus itu sendiri, sebab kejauhan dan kedekatan, kehadiran dan ketidakhadiran, kemusnahan dan kefanaan adalah akibat-akibat yang pasti dari pengetahuan ini sendiri. Karena sumber hakiki dari gerakan terus-menerus dan terputus-putus adalah hati saja, maka sang hamba mestilah memperoleh pengetahuan tentang gerakan-gerakan ini dari hati saja, dan bukan dari anggota tubuh lainnya mana pun. Manakala seluruh tubuh sang hamba diberkahi dengan gerakan ini, ia mesti mengenakan Zat Mahabenar yang diingat pada seluruh gerakan tubuh dan menerapkan pengetahuan ini pada Zat Mahabenar yang diingat. Dalam keadaan ini, kefanaan dan ekstase banyak terjadi dan sang hamba pun mencapai keadaan fana total.

« »